Konflik AS–Iran Kembali Memanas, Iran Serang Pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain Meski Sudah Ada Kesepakatan Sementara

Kabarindo24jam.com | Middle East– Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat tajam setelah Iran mengklaim meluncurkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Serangan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah kedua pihak menyepakati sebuah kesepakatan sementara (interim deal) yang dimaksudkan untuk menghentikan eskalasi konflik dan membuka jalan bagi perundingan damai lanjutan.

Pemerintah Iran menyatakan serangan dilakukan sebagai balasan atas serangan udara terbaru AS terhadap sejumlah target militer Iran. Sementara Washington menilai tindakan Iran merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan sementara yang baru disepakati.

Bacaan Lainnya

Konflik memasuki fase diplomatik pada pertengahan Juni 2026 ketika AS dan Iran, melalui mediasi sejumlah negara termasuk Swiss, menyepakati sebuah memorandum 14 poin atau kesepakatan sementara.

Tujuannya adalah menghentikan aksi militer, menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz, membuka kembali jalur perdagangan, serta memberikan waktu 60 hari untuk merundingkan kesepakatan permanen, termasuk mengenai program nuklir Iran dan pencabutan sebagian sanksi ekonomi.

Dengan kata lain, kedua negara belum menyelesaikan seluruh persoalan, tetapi sepakat menahan diri selama proses negosiasi berlangsung.

Menurut pemerintah AS, serangan udara terbaru dilakukan setelah terjadi insiden terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz dan meningkatnya ancaman terhadap jalur pelayaran internasional.
Washington menyatakan operasi militernya ditujukan kepada sasaran militer Iran sebagai respons atas dugaan serangan terhadap kepentingan AS dan keamanan maritim.

Sebaliknya, Iran menilai tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap semangat kesepakatan sementara dan menganggap AS kembali melakukan agresi sebelum proses diplomasi selesai.

Sebagai respons atas serangan udara AS, Iran kemudian mengumumkan operasi balasan berupa peluncuran rudal dan drone yang menyasar fasilitas militer Amerika di Kuwait dan Bahrain.

Teheran menyatakan target operasi adalah instalasi militer AS, bukan pemerintah Kuwait maupun Bahrain.

Namun kedua negara Teluk tersebut mengecam serangan yang terjadi di wilayah mereka karena dinilai melanggar kedaulatan negara.

Serangan ke Kuwait dan Bahrain, terjadi pada 28 Juni 2026 waktu setempat. Iran mengklaim berhasil menyerang pangkalan militer AS menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone.

Kuwait melaporkan sebagian proyektil berhasil dicegat sistem pertahanan udara, sementara Bahrain juga mengaktifkan sistem pertahanan dan sirene peringatan.

Terdapat kerusakan akibat serpihan maupun proyektil, namun hingga kini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa personel militer AS dalam insiden tersebut.

Perundingan di Swiss Tertunda
Sementara itu, pembicaraan lanjutan yang sedianya kembali digelar di Swiss dilaporkan tertunda akibat meningkatnya aksi saling serang.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa proses diplomasi yang baru dimulai dapat kembali gagal apabila kedua pihak terus melakukan aksi militer.

(Ls/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *