Kabarindo24jam.com | JAKARTA – Aktivitas Matahari meningkat setelah wilayah aktif yang diberi nomor AR 4513 menghasilkan semburan Matahari atau solar flare berkekuatan M8.1 pada Kamis, 20 Agustus 2026. Data pemantauan menunjukkan peristiwa tersebut menjadi salah satu aktivitas Matahari terkuat dalam periode tersebut dan memicu gangguan radio tingkat R2 atau moderate radio blackout menurut skala cuaca antariksa NOAA.
Menurut data NOAA Space Weather Prediction Center (SWPC), flare M8.1 mencapai puncak pada 11.42 UTC atau 18.42 WIB, 20 Agustus 2026. NOAA memasukkan peristiwa tersebut dalam kategori R2, yang berarti gangguan komunikasi radio frekuensi tinggi (HF) dapat terjadi pada wilayah Bumi yang sedang mengalami siang dan menghadap Matahari.
Data pemantauan independen berbasis pengamatan satelit juga mengidentifikasi aktivitas kuat dari wilayah AR 4513 pada 20 Agustus. Catatan pengamatan menunjukkan wilayah tersebut telah menghasilkan sejumlah flare kelas M sebelum mencapai tingkat M8.1.
Aktivitas itu menandakan AR 4513 masih merupakan kawasan yang perlu dipantau. AR 4513 Belum Tepat Menghadap Bumi Meski sejumlah informasi di media sosial menyebut wilayah aktif tersebut mulai “menghadap Bumi”, posisi aktualnya perlu dijelaskan secara hati-hati.
Saat flare M8.1 terjadi, NOAA mencatat lokasi optik wilayah tersebut sekitar N04E85, yang berarti AR 4513 masih berada sangat dekat dengan limb timur Matahari. Dengan rotasi Matahari, wilayah aktif itu akan bergerak semakin masuk ke sisi Matahari yang menghadap Bumi dalam beberapa hari berikutnya.
Kondisi tersebut menjadi penting karena jika AR 4513 tetap aktif ketika bergerak lebih dekat ke bagian tengah piringan Matahari, semburan berikutnya yang disertai coronal mass ejection (CME) secara geometris dapat mempunyai peluang lebih besar untuk bergerak ke arah Bumi.
Posisi wilayah aktif saja tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa CME tertentu pasti akan menghantam Bumi. Flare kuat dapat disertai CME, yakni lontaran plasma dan medan magnet dalam jumlah besar dari atmosfer Matahari.
Jika CME bergerak menuju Bumi, material tersebut umumnya membutuhkan waktu puluhan jam hingga beberapa hari untuk mencapai lingkungan Bumi, tergantung kecepatannya.
Dalam kasus AR 4513, pengamatan menunjukkan adanya erupsi yang berkaitan dengan flare tersebut. Akan tetapi, karena sumbernya masih berada dekat sisi timur Matahari, belum terdapat dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa CME dari peristiwa tersebut merupakan hantaman langsung ke Bumi.
Potensi dampak terhadap Indonesia ada, tetapi sejauh data yang terverifikasi saat ini belum menunjukkan ancaman langsung terhadap masyarakat.
Dampak yang paling mungkin dari aktivitas flare adalah gangguan terhadap sistem komunikasi radio HF pada wilayah yang terkena radiasi Matahari. NOAA menjelaskan bahwa kategori R1–R2 dapat menyebabkan degradasi hingga hilangnya komunikasi radio HF secara sementara pada sisi Bumi yang sedang diterangi Matahari.
Untuk Indonesia, dampaknya dapat menjadi relevan terutama bagi sistem yang bergantung pada komunikasi radio frekuensi tinggi, penerbangan pada rute tertentu, serta sebagian aktivitas teknologi dan komunikasi yang sensitif terhadap kondisi ionosfer.
Belum ada informasi terverifikasi yang menunjukkan terjadinya kerusakan jaringan listrik, gangguan satelit besar, atau dampak langsung terhadap masyarakat Indonesia akibat flare M8.1 tersebut.
Solar flare kelas M8.1 terdengar sangat besar, tetapi peningkatan radiasi dari flare tidak berarti masyarakat di permukaan Bumi akan menerima paparan berbahaya secara langsung. Atmosfer Bumi dan medan magnet planet memberikan perlindungan terhadap sebagian besar radiasi dan partikel berenergi dari Matahari.
Perhatian utama dalam pemantauan cuaca antariksa justru diarahkan pada komunikasi radio, satelit, navigasi, penerbangan, jaringan listrik, dan sistem teknologi lainnya. Risiko yang berbeda dapat muncul jika terjadi badai radiasi Matahari atau badai geomagnetik yang kuat. Karena itu, klasifikasi flare M8.1 tidak boleh disamakan secara otomatis dengan tingkat badai geomagnetik di Bumi.
Laporan Australian Space Weather Forecasting Centre sebelumnya menunjukkan wilayah AR 4513 baru berotasi melewati sisi timur Matahari dan telah menunjukkan aktivitas flare. Pusat tersebut memperkirakan aktivitas flare berada pada tingkat rendah hingga menengah dalam periode 20–22 Agustus, dengan aktivitas AR 4513 menjadi salah satu faktor yang dipantau.
Pemantauan terbaru juga menunjukkan AR 4513 masih berada di kawasan timur Matahari. Posisi ini akan berubah seiring rotasi Matahari sehingga potensi dampak dari flare atau CME berikutnya harus dinilai kembali berdasarkan lokasi dan arah lontaran saat peristiwa terjadi.
(Ls/*)







