Senin, 15 April 2024

Putin Mulai Khawatir, Unjuk Rasa Pro Alexei Navalny Meluas ke Seluruh Rusia

MOSKOW — Di tengah kuatnya dominasi kekuasaan Vladimir Putin, terjadi aksi mahasiswa dan kalangan masyarakat lainnya secara besar-besaran di Rusia yang memprotes penahanan sekaligus menuntut pembebasan tokoh oposisi Alexei Navalny dari balik jeruji. Alexei acapkali lantang mengkritik supremasi Putin menguasai Rusia lebih dari 20 tahun.

Gelombang aksi massa di seluruh Rusia ini lantas membuat Presiden Vladimir Putin mulai khawatir dan merasa geram, sebab hal itu bisa mengoyak soliditas individu dan kelompok penopang kekuasaannya. Kepada para mahasiswa, Putin mengutuk aksi protes tersebut karena berbahaya dan ilegal. 

Tanpa menyebut nama Alexei Navalny, Putin menyatakan aksi protes ilegal tidak boleh dilakukan untuk memajukan kepentingan politik mereka sendiri yang bisa berdampak buruk pada stabilitas politik maupun keamanan negara.

“Setiap orang berhak untuk mengungkapkan pandangannya dalam kerangka yang ditentukan oleh hukum. Apa pun di luar hukum, bukan hanya kontraproduktif, tapi juga berbahaya, ini penting dicamkan,” tandas Putin yang dikutip dari media berpengaruh, Russia Today, Selasa (26/1/2021).

Mencontohkan pada peristiwa pergolakan akibat Revolusi Rusia 1917 dan runtuhnya Uni Soviet 1991 sebagai contoh, Putin mengatakan tindakan ilegal dapat menyebabkan kesengsaraan, yaitu runtuhnya pondasi dan keutuhan negara.

Baca Juga :  Pemerintahan Baru Bersatu Lawan Rezim Militer Myanmar Segera Terbentuk

Seperti diberitakan sebelumnya, Sabtu (23/1), puluhan ribu orang turun ke jalan untuk menyuarakan pembebasan Alexei Navalny yang dikurung sejak 19 Januari 2021 karena melanggar aturan pembebasan bersyarat sebelum menghadapi persidangan kasus terdahulu.

Polisi pun bertindak tegas dan keras guna meredam aksi tersebut, lebih dari 3.700 pengunjuk rasa di seluruh Rusia mendapat tindakan terukur dan ditahan. Petugas juga menggunakan gas air mata dan alat pemukul serta kendaraan taktis untuk membubarkan massa.

Tapi kelompok oposisi dan para sekutu Alexei Navalny tidak lantas takut beraksi lagi. Menurut petinggi oposisi, Leonid Volkov, pihaknya mengumumkan rencana aksi protes berikutnya pada Minggu (31/1) dengan fokus isu menuntut pembebasan Alexei.

Pembebasan Alexei pun juga disuarakan oleh Uni Eropa hingga Amerika Serikat. Tapi pemerintah Rusia tak bergeming, Rusia telah mengeluarkan pernyataan agar AS dan Uni Eropa tidak ikut campur tangan dalam urusan dalam negerinya. (RT/CP)

Latest news

- Advertisement -spot_img

Related news

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini