Kabarindo24jam.com | Havana – Gelombang protes kembali terjadi di Cuba dalam beberapa hari terakhir seiring memburuknya krisis energi dan ekonomi yang memicu pemadaman listrik berkepanjangan di berbagai wilayah negara tersebut.
Aksi demonstrasi dilaporkan muncul di sejumlah kawasan Havana dan beberapa kota lain, dengan warga turun ke jalan, memukul panci, serta meneriakkan tuntutan agar pasokan listrik dipulihkan.
Pemerintah Cuba menyatakan kondisi sistem kelistrikan nasional saat ini berada dalam situasi “sangat tegang” setelah negara itu kehabisan cadangan diesel dan bahan bakar minyak untuk menopang pembangkit listrik.
Menteri Energi Cuba, Vicente de la O Levy, menyebut jaringan listrik kini hanya bertumpu pada pasokan energi domestik yang terbatas.
Data terbaru menunjukkan sebagian wilayah Cuba mengalami pemadaman hingga 18 sampai 22 jam per hari. Bahkan pada beberapa hari terakhir, sekitar 65 persen wilayah negara itu dilaporkan terdampak pemadaman secara bersamaan.
Demonstrasi dilaporkan berlangsung di sejumlah distrik Havana, termasuk San Miguel del Padrón dan Playa. Sejumlah warga terdengar meneriakkan slogan seperti “Turn on the lights!” sambil memprotes krisis listrik dan sulitnya kebutuhan pokok. Sebagian aksi berlangsung damai, namun terdapat pula laporan penangkapan di beberapa wilayah.
Gelombang keresahan sosial ini bukan pertama kali terjadi. Sejak 2024, Cuba berulang kali mengalami protes akibat pemadaman listrik massal, krisis pangan, inflasi, dan kelangkaan bahan bakar. Kondisi tersebut terus memburuk sepanjang 2025 hingga memasuki 2026.
Pada Maret 2026, aksi protes kembali pecah di kota Morón setelah warga memprotes pemadaman listrik dan kekurangan pangan. Insiden itu berujung pada penangkapan sejumlah demonstran setelah terjadi aksi perusakan kantor Partai Komunis setempat.
Krisis energi Cuba diperparah oleh berkurangnya impor bahan bakar dari negara pemasok utama seperti Venezuela dan Meksiko.
Pemerintah Cuba menyalahkan embargo dan pembatasan Amerika Serikat sebagai faktor utama yang menghambat masuknya pasokan energi ke negara tersebut.
Sementara sejumlah pengamat menilai persoalan juga dipicu infrastruktur pembangkit listrik yang telah menua serta tekanan ekonomi internal yang berlangsung lama.
Selain berdampak pada listrik rumah tangga, krisis bahan bakar juga mengganggu layanan publik, distribusi pangan, transportasi, rumah sakit, hingga pengangkutan sampah di Havana dan kota-kota lain.
Hingga kini, situasi di Cuba dilaporkan masih berlangsung tidak stabil dengan pemadaman bergilir dan aksi protes sporadis yang terus muncul di beberapa wilayah negara tersebut.
(Ls/*)







