Kabarindo24jam.com | Jakarta – Sebuah Eksperimen Historiografi Digital untuk Menghidupkan Kembali Fragmen Sejarah Proklamasi Indonesia dengan Bantuan Delapan Model AI.
Angkatan Muda Sosialis Indonesia (AMSI) memperkenalkan hasil sebuah eksperimen rekonstruksi historis terhadap naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang secara historis dikaitkan dengan Sutan Sjahrir yang telah dikirim ke pos-pos penting di Jawa yang akhirnya telah dibacakan oleh dr. Soedarsono di Cirebon pada 15 Agustus 1945.
Naskah tersebut selama puluhan tahun tidak diketahui keberadaannya secara utuh. Yang tersisa adalah sejumlah kesaksian, catatan sejarah, fragmen isi, serta keterangan mengenai gagasan yang terkandung di dalamnya.
AMSI menegaskan bahwa hasil yang diperkenalkan hari ini bukan klaim penemuan naskah asli Sutan Sjahrir, melainkan sebuah rekonstruksi histori-hipotetis berbasis sumber sejarah dan dibantu teknologi kecerdasan artifisial (AI) dengan Metodologi Cross-Model AI Corpus Reconstruction.
“Kami tidak menemukan naskah Sjahrir. Kami tahu bahwa naskah aslinya hilang. Yang kami lakukan adalah mencoba mendekati kembali isi dan gagasan naskah tersebut berdasarkan jejak sejarah yang masih tersisa. Karena itu, kami menyebutnya sebagai rekonstruksi, bukan naskah autentik,” ujar Bobby Ciputra, Ketua Angkatan Muda Sosialis Indonesia (AMSI).
Dalam proses penyusunannya, AMSI juga mempertimbangkan pemikiran dan tradisi intelektual Sosialisme Kerakyatan serta melakukan diskusi dengan para senior dan pemerhati pemikiran Sjahrir yang masih hidup.
Hal tersebut penting agar rekonstruksi tidak berhenti pada kemampuan AI menghasilkan kalimat yang terdengar “revolusioner”, tetapi berusaha memahami cara berpikir Sjahrir dalam konteks zamannya.
“Bagi kami, Sjahrir bukan sekadar nama yang ingin kami hidupkan kembali karena AMSI memiliki ideologi Sosialisme Kerakyatan. Justru karena kami memiliki kedekatan intelektual dengan pemikiran Sjahrir, kami merasa harus berhati-hati agar tidak memasukkan gagasan masa kini ke dalam pemikiran seorang tokoh yang hidup pada 1945,” ujar Bobby Ciputra.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Rakjat Indonesia telah lama hidoep dalam pendjadjahan dan penindasan dibawah kolonialisme Belanda dan selama tiga setengah tahoen dalam masa fasisme Djepang.
Selama itoe rakjat kita tidak diperlakoekan sebagai manoesia jang merdeka, melainkan sebagai alat bagi kepentingan kekoeasaan asing.
Dalam masa pendoedoekan Djepang, penderitaan rakjat kita bertambah berat. Rakjat dipaksa bekerdja tanpa oepah jang patoet, dirampas hasil boeminja, dibatasi kebebasannja, sehingga rakjat Indonesia telah memikoel kesengsaraan jang melampaoei batas kemanoesiaan.
Tetapi dalam segala penderitaan itoe, kesadaran rakjat Indonesia akan kemerdekaan tidak pernah padam.
Kini, kekoeatan militerisme Djepang telah roentoeh, dan saatnja telah tiba bagi rakjat Indonesia oentoek menentoekan nasibnja sendiri.
Tetapi kita tidak maoe bahwa nasib bangsa Indonesia sekali lagi ditentoekan oleh kekoeasaan asing.
Kemerdekaan Indonesia boekanlah hadiah dari soeatoe pemerintahan asing. Ia boekan pemberian dari Djepang.
Kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, jang lahir dari kesadaran rakjatnja sendiri.
Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tidak maoe didjadjah oleh siapapoen djoega.
Kami tidak maoe kemerdekaan jang telah kita teboes dengan penderitaan dan pengorbanan ini berarti perpindahan dari tangan toean jang lama ke tangan toean jang lain.
Tanah air dan nasib bangsa Indonesia haroes berada di tangan rakjat Indonesia sendiri.
Dengan ini kami menjatakan kepada segala bangsa di doenia, bahwa bangsa Indonesia menolak segala bentoek pendjadjahan dan penindasan atas manoesia, dan berhak berdiri sebagai bangsa jang merdeka, sederadjat dengan bangsa-bangsa lain.
Kemerdekaan jang kita proklamirkan ini haroes mendjadi dasar bagi tersoesoennja masjarakat jang bebas dan demokratis, jang menghormati kebebasan manoesia, keadilan dan hak rakjat, jang bersih dari sisa-sisa kolonialisme dan feodalisme.
Kepada seloeroeh rakjat Indonesia kami seroekan: Bersatoelah dan berdirilah dengan kesadaran penoeh, serta kekoeatan sendiri oentoek mempertahankan kemerdekaan ini.
Djanganlah kita menoenggoe perintah atau pemberian dari siapapoen, karena nasib kita sendiri haroes kita tentoekan sendiri.
Salam Merdeka Sempoerna!
Indonesia, hari 15 boelan 8 tahoen 05
Bobby Ciputra







