Kabarindo24jam.com | Plymouth, Inggris – Alkisah di sebuah masa, saat bumi Indonesia belum dijajah oleh layar kaca lima inci dan gawai pintar belum lahir ke dunia. Udara sore selalu berbau tanah basah, asap dapur yang mengepul, dan suara tawa bocah yang berkejaran memburu layang-layang putus. Namun, di atas segalanya, ada satu penguasa wewangian yang tak terbantahkan kharismanya Dialah Sang Mahaguru Wangi: Bedak Bayi Rita.
Ia tidak hadir dalam kemasan plastik yang angkuh dan licin. Tidak. Ia lahir dari rahim silinder karton tebal yang bersahaja, serupa menara mercusuar mini di atas meja rias kayu jati. Kepalanya yang kokoh harus ditusuk terlebih dahulu oleh peniti atau jarum pentul pusaka milik Emak,
melahirkan lubang-lubang kecil tempat takdir wewangian ditentukan. Maka, ritual sakral itu pun dimulai setiap jarum jam menyentuh angka empat sore.
“Sini kamu! Sudah mandi bukannya dandan, malah mau kabur!” Suara Emak menggelegar, memecah sunyi badai sore. Itu adalah mantra pemanggil jiwa. Bocah kecil hanya bisa pasrah. Rambut mereka telah diklimiskan dengan minyak kelapa buatan sendiri hingga berkilau menantang matahari terbenam. Anak perempuan dikuncir air mancur ke atas, tegak lurus bagai antena yang siap menangkap sinyal kebahagiaan.
Lalu, tibalah saatnya eksekusi estetika. Emak memegang tabung karton Rita. Suara kemeresik bedak di dalam kardus tebal itu berbunyi krucuk-krucuk, sebuah simfoni pengantar rona. Dengan spons kain legendaris yang sudah agak dekil namun penuh cinta, bedak Rita diteplok-teplokkan ke wajah. Puk! Puk! Puk!
Bukan diusap dengan kelembutan puitis salon-salon Paris, melainkan dihantamkan ke pipi, dahi, hingga hidung tanpa ampun. “Mak, perih hidungku kehirup bedak!” keluh sang anak, terbatuk-batuk kecil dalam kabut putih. “Biar wangi! Biar gak biang keringat!” jawab Emak, tak tergoyahkan bagai karang di lautan.
Ketika ritual usai, sang bocah perempuan bermahkota kuncir air mancur itu pun melangkah keluar rumah dengan penuh wibawa.
Wajahnya putih pekat berbalut bedak karton Rita, berkilau menantang sisa matahari sore. Di tangannya, sebutir kelereng pusaka digenggam erat, siap menghantam gundu lawan di atas tanah berdebu.
Sore itu adalah panggung sandiwara yang bising. Di sudut gang, anak-anak perempuan melompat tinggi-tinggi, menantang bentangan untaian karet gelang yang dipasang setinggi kepala. Di sudut lain, aroma pisang goreng hangat dan pohong gurih menggoda iman perut yang mulai keroncongan. Waktu terasa berjalan begitu lambat, dan kebahagiaan begitu murah, terjaga di antara tawa bocah-bocah bermuka topeng putih. Mereka adalah persaudaraan klan muka cemong, penguasa sore hari yang tak kenal takut.
Namun, waktu adalah musuh utama para petualang cilik. Ketika matahari perlahan menggelincir ke balik cakrawala, alarm bahaya pun berbunyi. Sang bocah perempuan mendadak tersadar dari euforia kemenangan main kelereng: baju putihnya kini telah berubah warna menjadi kelabu bumi, lututnya penuh noda tanah, dan mahakarya bedak Rita di wajahnya telah luntur parah, membentuk peta buta akibat kucuran keringat. Pulang ke rumah dalam kondisi mengenaskan seperti itu adalah sebuah bentuk kepasrahan menyerahkan diri pada murka omelan Emak.
Namun, otak taktis sang bocah tomboy bergerak lebih cepat dari embusan angin magrib. Sebuah rencana pelarian jenius pun dieksekusi. Bukannya belok ke arah pintu rumah, ia melakukan manuver tajam, tancap gas berlari menuju langgar (mushola) kampung.
Langgar malam itu berubah fungsi menjadi bunker perlindungan suci. Di bawah pancuran air wudu yang dingin, segala bukti kejahatan sore hari—debu kelereng, tanah lapangan, dan sisa-sisa bedak Rita yang belepotan—dibasuh hingga tuntas tanpa bekas.
Maka, ketika azan Isya telah lama berlalu, sang bocah perempuan pun pulang melintasi ambang pintu rumah dengan langkah anggun nan tenang. Ia membawa kitab suci di dada, menebar aroma suci air wudu, dan memasang wajah paling alim sedunia. Emak yang tadinya sudah berdiri tegak memegang sapu lidi di balik pintu, seketika lumer hatinya. Omelan yang sudah diubun-ubun padam seketika, berganti rasa bangga melihat anak gadisnya pulang menuntut ilmu agama.
Sebuah kemenangan mutlak dari taktik pelarian anak zaman dulu, ditutup dengan manis oleh gigitan roti kismis seharga seratus rupiah yang rasanya melebihi takaran kemewahan dunia.
(AW/*)
Digital storyteller
Cerita Di antara waktu
Author : Ariestia







