IHSG Tertekan dan Rupiah Melemah, Sentimen Investor Soroti Arah Kebijakan Ekonomi Indonesia

Kabarindo24jam.com | Jakarta, 8 Juni 2026 – Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tekanan pada awal pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak ke level terlemah dalam beberapa tahun terakhir di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kombinasi faktor domestik dan global.

Pada perdagangan Senin (8/6), IHSG kembali bergerak di zona merah setelah mengalami koreksi tajam dalam beberapa sesi sebelumnya. Data pasar menunjukkan tekanan jual masih mendominasi, terutama dari investor asing yang dalam beberapa pekan terakhir mencatat arus keluar modal dari pasar saham Indonesia.

Bacaan Lainnya

Di sisi lain, rupiah juga berada dalam tekanan. Kurs referensi Bank Indonesia (JISDOR) pada 8 Juni 2026 tercatat di level Rp18.171 per dolar AS, lebih lemah dibandingkan posisi beberapa hari sebelumnya.

Penguatan dolar AS secara global turut memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sejumlah analis pasar menilai kombinasi faktor eksternal dan domestik menjadi penyebab utama volatilitas saat ini.

Dari sisi global, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), penguatan dolar AS, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

Sementara dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan fiskal dan ekonomi pemerintah.

Sejumlah program belanja negara yang membutuhkan pembiayaan besar, perkembangan pengelolaan sumber daya alam, serta perubahan kebijakan ekonomi strategis menjadi faktor yang terus dicermati pelaku pasar.

Meski demikian, pemerintah dan otoritas moneter telah mengambil langkah untuk menjaga stabilitas pasar.

Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan sebelumnya menyatakan komitmen memperkuat daya tarik aset domestik serta menjaga stabilitas nilai tukar melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.

Adapun isu yang berkembang mengenai dampak kebijakan perpajakan Indonesia terhadap pasar saham Singapura hingga saat ini belum didukung bukti kuat bahwa pelemahan pasar Singapura terjadi secara langsung akibat kebijakan pajak Indonesia.

Sejumlah laporan pasar internasional menunjukkan bahwa pergerakan bursa di kawasan Asia saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen global, termasuk penguatan dolar AS, prospek suku bunga AS, dan ketidakpastian geopolitik.

Mengingat Singapura merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia, setiap perubahan kebijakan ekonomi, investasi, maupun perpajakan di Indonesia tetap berpotensi memengaruhi sentimen terhadap perusahaan-perusahaan yang memiliki eksposur bisnis besar di pasar Indonesia.

(Ls/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *