Isu Migrasi dan Integrasi Kembali Memanas Usai Pernyataan Tommy Robinson

Kabarindo24jam.com | London – Tokoh aktivis sayap kanan Inggris Tommy Robinson kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pernyataannya mengenai migrasi, dan deportasi massal beredar luas di media sosial dalam beberapa hari terakhir.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya demonstrasi anti-imigrasi dan aksi politik kelompok nasionalis di United Kingdom.
Robinson, yang memiliki nama asli Stephen Yaxley-Lennon, dikenal sebagai pendiri kelompok English Defence League dan selama bertahun-tahun aktif menyuarakan kritik keras terhadap kebijakan migrasi pemerintah Inggris.

Dalam berbagai video dan wawancara yang beredar daring, ia menyerukan penghentian pendanaan asing terkait kelompok migrasi di Inggris serta deportasi terhadap migran ilegal dan sebagian komunitas Muslim  yang dianggap tidak berintegrasi dengan masyarakat Inggris.

Bacaan Lainnya

Beberapa kutipan yang viral di media sosial menyebut Robinson ingin “menghentikan migran” dan memulangkan mereka dari hotel-hotel penampungan menggunakan militer.

Namun hingga saat ini belum ditemukan rekaman resmi lengkap atau transkrip resmi pemerintah yang mengonfirmasi keseluruhan kutipan viral tersebut secara utuh dan dalam konteks penuh.

Sebagian besar video beredar berasal dari potongan siaran media sosial dan akun pendukung gerakan anti-imigrasi.

Pada 16 Mei 2026, Robinson memimpin aksi bertajuk “Unite the Kingdom” di pusat kota London yang dihadiri puluhan ribu orang menurut estimasi kepolisian Inggris.

Dalam pidatonya, ia menyerukan para pendukungnya untuk lebih aktif dalam politik menjelang pemilu mendatang dan menyebut aksi tersebut sebagai “titik balik bagi Inggris”.

Aksi tersebut memicu respons luas dari berbagai pihak. Pemerintah Inggris, sejumlah kelompok anti-rasisme, serta organisasi hak asasi manusia mengecam retorika yang dianggap memecah belah masyarakat dan memicu sentimen anti-Muslim.

Wali Kota London Sadiq Khan menyatakan aparat keamanan tetap siaga terhadap potensi ujaran kebencian selama demonstrasi berlangsung.

Sementara itu, kelompok pendukung Robinson menilai pemerintah gagal mengendalikan migrasi ilegal dan kebijakan penempatan pencari suaka di hotel-hotel penampungan. Isu tersebut memang menjadi salah satu perdebatan politik utama di Inggris dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait arus migran yang datang melalui jalur laut dari Eropa.

Menurut laporan sejumlah media internasional, aksi dan pernyataan Robinson terus menuai kontroversi karena sering dikaitkan dengan retorika anti-imigrasi.

Sejumlah pengamat politik Inggris juga menyebut meningkatnya demonstrasi kelompok nasionalis terjadi bersamaan dengan ketegangan sosial dan isu ekonomi domestik di negara tersebut.

(Ls/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *