Kabarindo24jam.com |JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Mata uang Garuda dilaporkan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga mendekati Rp17.900 per dolar AS, menjadi salah satu level terlemah dalam sejarah perdagangan rupiah.
Sejumlah laporan pasar menunjukkan rupiah sempat berada di level sekitar Rp17.870–Rp17.881 per dolar AS dalam perdagangan akhir pekan ini.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan pelemahan rupiah tidak akan memengaruhi harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi hingga akhir tahun 2026.
Pemerintah memastikan harga Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan serta stok energi nasional dalam kondisi aman.
Tekanan terhadap rupiah disebut dipengaruhi kombinasi sentimen global, termasuk penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, serta ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat yang bertahan lebih lama.
Sebelumnya, rupiah juga telah mengalami tren pelemahan bertahap sepanjang Mei 2026. Pada awal bulan, kurs rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.300–Rp17.400 per dolar AS sebelum terus bergerak melemah hingga menembus level Rp17.600 dan Rp17.700.
Pelaku pasar saat ini masih mencermati langkah stabilisasi yang dilakukan otoritas moneter, termasuk intervensi pasar valuta asing dan penguatan instrumen domestik untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah volatilitas global yang meningkat.
(Ls/*)







