Sungai Cianteun dari Bogor Sampai Tangerang, Menghidupi Ratusan Ribu Jiwa

Oplus_131072

Kabarindo24jam.com | Leuwiliang -Sungai Cianteun yang membelah kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) hingga mengalir membelah wilayah Kecamatan Pamijahan, Leuwiliang, Rumpin, sampai Tangerang Banten, memiliki panjang 49,2 Km dengan luas daerah aliran sungai (DAS) mencapai 426,6 Kilometer persegi.

Saat ini, manfaat sungai Cianteun diperkirakan banyak membantu kebutuhan air bagi ratusan ribu jiwa bahkan lebih. Dari catatan pada data pelanggan aktif di Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Kahuripan Cabang Leuwiliang yang terkonsentrasi pada pemanfaatan aliran sungai Cianteun, menembus angka 12.311 pelanggan aktif, atau ditaksir meliputi sekitar 55.543 jiwa yang tersebar di 4 wilayah kecamatan, yakni Leuwiliang, Leuwisadeng, Cibungbulang dan Kecamatan Ciampea.

Bacaan Lainnya

Sayangnya, upaya penataan serta penanganan kawasan aliran sungai Cianteun dengan seringnya tebingan bantaran sungai tersebut dilanda longsor, sampai saat ini dirasakan belum maksimal.

“Benar, kami kesulitan melakukan antisipasi Penjernihan terhadap kekeruhan air sungai Cianteun yang cukup parah akibat longsor, sehingga selalu saja menjadi penyebab keruhnya air ledeng yang mengalir kerumah pelanggan,”kata Dany Prasetya Manager Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Cabang Leuwiliang kepada wartawan, baru-baru ini.

Akibat seringnya Curah hujan tinggi menjadi penyebab longsor tebing di hulu maupun di sepanjang aliran sungainya longsor Sambung Dany, maka pada kondisi NTU (Nephelometric Turbidity Unit) atau kekeruhan air sangat tinggi, sulit bagi pihaknya untuk menetralisir air agar mencapai jernih yang maksimal.

“Kendalanya adalah Faktor usia instalasi harus diremajakan, seperti reservoir ditambah dan diremajakan. contohnya saja pada keruhnya air sungai Cianteun yang terjadi pada beberapa waktu lalu akibat longsor, tak kurang selama 10 hari air ledeng yang mengalir kerumah pelanggan alami kekeruhan sehingga membuat pelanggan datang ke kantor cabang untuk melakukan aksi protes,” tandas Dany.

Terpisah, Ujang Andi warga bantaran sungai Cianteun di Kampung Pasir Angin, Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang menambahkan, bahwa Sungai Cianteun memiliki catatan sejarah panjang.

“Selain Airnya banyak membantu masyarakat penghuni bantarannya, sungai Cianteun dahulu kala pernah dijadikan tempat menghanyutkan jenazah warga yang tinggal dipesisir yang ritualnya dilakukan di Situs Batu Monolith Museum Pasir angin, termasuk sebagai saksi bisu pembataian 620 tentara Jepang oleh Sekutu dan Belanda di bawah Jembatan Leuwiliang,” tandasnya. (Jef)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *