Kabarindo24jam.com | Teluk Persia – Pemerintah Amerika Serikat menyatakan fase ofensif dalam operasi militer terhadap Iran, yang dikenal sebagai Operation Epic Fury, telah berakhir. Namun, aktivitas militer di kawasan tetap berlanjut melalui operasi baru bertajuk Project Freedom.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa fase serangan besar telah dihentikan, sementara operasi saat ini difokuskan pada pengamanan jalur pelayaran di Strait of Hormuz.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut Project Freedom sebagai misi terpisah yang bersifat defensif dan sementara, dengan tujuan melindungi kapal komersial yang melintasi jalur tersebut.
Fokus pada pengamanan Jalur Energi Global
Operasi Project Freedom diluncurkan pada awal Mei 2026 untuk mengawal kapal-kapal dagang dan memastikan kelancaran distribusi energi global melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak terpenting dunia.
Militer AS mengerahkan kapal perang, pesawat, serta sistem pengawasan untuk mendukung pengawalan tersebut. Dalam beberapa laporan, kapal dagang telah berhasil melintasi selat dengan pengawalan militer AS.
Ketegangan Masih Berlanjut Meski Ada Gencatan Senjata
Meski AS menyatakan konflik utama telah mereda sejak gencatan senjata 7 April, insiden keamanan masih terjadi di kawasan.
Laporan terbaru menyebut adanya serangan terhadap kapal komersial dan aktivitas militer terbatas, termasuk penggunaan drone dan rudal oleh pihak Iran,tidak berkembang menjadi konflik skala penuh.
Epic Fury sendiri dimulai pada Februari 2026 dengan tujuan menyerang infrastruktur militer Iran, termasuk kemampuan rudal dan angkatan lautnya.
Seiring berjalannya waktu, operasi tersebut beralih dari fase serangan intensif ke fase tekanan dan pengendalian wilayah maritim, sebelum akhirnya dinyatakan selesai pada fase ofensifnya.
Operasi Project Freedom menunjukkan bahwa kehadiran militer AS tetap berlanjut dengan fokus pada pengamanan jalur perdagangan dan pencegahan gangguan terhadap pelayaran internasional.
(Ls/*)







