Kabarindo24jam.com | Jakarta – Nilai tukar mata uang Iran, rial, kembali menjadi perhatian setelah beredar informasi bahwa $100 setara sekitar 131 juta rial dan $1.000 mencapai lebih dari 1 miliar rial.
Berdasarkan data pasar valuta asing dan laporan ekonomi terbaru, angka tersebut secara umum sesuai dengan kondisi riil di pasar tidak resmi (parallel market), meskipun nilai tukar dapat berubah cepat.
Sejumlah laporan menunjukkan bahwa pada 2026:
Nilai tukar berada di kisaran 1,3 juta hingga lebih dari 1,8 juta rial per 1 dolar AS.Bahkan pada akhir April 2026, kurs sempat menyentuh sekitar 1,81 juta rial per dolar AS, level terendah sepanjang sejarah.
Dengan acuan tersebut:
$100 ≈ 130 juta – 180 juta rial
$1.000 ≈ 1,3 miliar – 1,8 miliar rial
Faktor Pelemahan tajam mata uang rial
dipicu oleh kombinasi faktor ekonomi dan geopolitik, antara lain:
Sanksi ekonomi internasional yang membatasi arus devisa
Tekanan konflik dan gangguan ekspor
Inflasi tinggi yang mencapai lebih dari 60% secara tahunan
Kondisi tersebut menyebabkan nilai mata uang terus terdepresiasi dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam praktik sehari-hari, masyarakat Iran lebih sering menggunakan satuan toman, di mana:
1 toman = 10 rial
Penggunaan toman dianggap lebih praktis karena nilai rial yang sangat besar akibat inflasi.
Dampak di Lapangan
Meski nominal dalam rial terlihat sangat besar, hal itu tidak mencerminkan daya beli yang tinggi. Harga barang dan jasa di dalam negeri telah menyesuaikan dengan inflasi, sehingga nilai riil tetap sebanding dengan mata uang asing.
Informasi yang menyebut $100 setara ratusan juta rial hingga $1.000 mencapai miliaran rial dapat dikategorikan akurat secara nominal, terutama jika mengacu pada kurs pasar terbaru. Namun, nilai tersebut mencerminkan pelemahan mata uang, bukan peningkatan kekayaan riil.
(Ls/*)
Sumber: laporan media internasional (Reuters), dan data pemantauan kurs pasar terbuka







