Menko Polkam ‘Ingatkan’ Taruna – Taruni Akademi Militer Soal Kepemimpinan dan Pengabdian

Oplus_131072

Kabarindo24jam.com | Magelang -Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, memberikan pembekalan materi khusus kepemimpinan dan pengabdian kepada para calon pemimpin TNI alias para taruna – taruni Akademi Militer (Akmil) TNI Angkatan Darat di Magelang pada Jumat (5/6/2026).

Djamari juga mengangkat sisi lain dari dua tokoh nasional yang sama-sama lahir dari lingkungan militer, yakni Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Prabowo Subianto. Menurut Djamari, keduanya memiliki satu kesamaan yang menjadi fondasi penting dalam perjalanan karier mereka: kecintaan terhadap membaca dan semangat belajar yang tidak pernah padam.

Bacaan Lainnya

“Perlu di ingat oleh kalian, tiga orang Presiden RI berasal dari tentara, dan dua di antaranya lahir dari tempat ini (Akmil): Presiden SBY dan Presiden Prabowo. Keduanya memiliki kesamaan, yaitu sangat senang membaca,” ujar mantan Panglima Kostrad dan Kepala Staf Umum TNI tersebut dalam ceramahnya yang dikutip pada Senin (8/6/2026).

Kenangan lama bersama SBY muda pun dibagikan Djamari kepada para taruna. Saat menjalani operasi militer di lapangan, SBY disebut tetap menyempatkan diri membawa buku ke mana pun bertugas. “Bahkan di tengah operasi tersebut, beliau sering mendapatkan pasokan buku dari garis belakang yang dikirimkan oleh sang istri,” kenang Djamari.

Kebiasaan serupa, kata dia, juga terlihat pada Presiden Prabowo. Djamari menggambarkan besarnya perhatian Presiden terhadap literasi melalui koleksi buku yang dimilikinya. “Di kediaman Presiden ada perpustakaan besar yang kira-kira mencapai satu setengah lantai. Sekitar 80 persen buku di sana membahas berbagai macam pertempuran di seluruh dunia, sekitar 15 persen tentang ekonomi, dan sisanya mencakup ilmu-ilmu yang lain,” tuturnya.

Bagi Djamari, kebiasaan membaca bukan sekadar hobi. Semangat belajar yang terus dipelihara menjadi salah satu faktor yang membentuk kualitas seorang pemimpin. Karena itu, ia mengingatkan para taruna bahwa kenaikan pangkat harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas diri.

“Tanda pangkat itu adalah tanda kualitas. Jadi, ketika kamu berpangkat kapten, kualitasmu sebagai prajurit harus lebih tinggi dari seorang letnan. Saya pesan betul kepada kalian, bertugaslah dengan baik dan selalu menjadi contoh keteladanan,” tegas Djamari.

Selain menekankan pentingnya kualitas individu, Menko Polkam juga mengingatkan bahwa kekuatan TNI bertumpu pada soliditas dan rasa kebersamaan antarprajurit. “Saat kalian masuk menjadi taruna, mungkin kalian berbeda-beda. Namun setelah ada di sini, kalian adalah satu kesatuan. Ingat, TNI kuat karena kekompakan dan kebersamaan,” jelas dia.

Pesan tersebut diperluas dengan ajakan untuk menjaga hubungan harmonis dengan institusi lain, khususnya Polri. Menurutnya, kedua lembaga tersebut memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas negara. “Berdiri tegaknya negara ini tidak lepas dari topangan TNI dan Polri. Saat tulang punggung ini tidak lagi kokoh menopang, maka saat itulah negara berada dalam kesulitan,” tegasnya.

Suasana pembekalan semakin cair ketika Djamari menyampaikan sebuah kelakar khas dunia militer. Ia mengatakan bahwa seorang perwira ideal tidak hanya tangguh di medan tempur, tetapi juga disiplin saat latihan, tekun belajar, bahkan pandai menyanyi.

“Agak janggal ya, mengapa harus pandai menyanyi? Namun intinya, dengan bisa menyanyi, kalian bisa dekat dengan prajuritmu. Dengan bisa menyanyi, kalian bisa dekat dan berkomunikasi bersama dengan rakyat. Artinya, pendekatan kepada masyarakat sangat menentukan peran kita sebagai tulang punggung bangsa,” ungkap Djamari.

Di penghujung arahannya, Djamari kembali menekankan arti penting hubungan emosional antara pemimpin dan anak buah. Baginya, kedekatan dengan prajurit bukan sekadar simbol kepemimpinan, melainkan kebutuhan yang akan terasa dalam situasi paling sulit sekalipun.

“Jaga kedekatan dengan prajuritmu, anggotamu. Di saat kita dalam operasi dan berhadapan dengan pertempuran, di saat kamu terluka, bahkan di saat kamu gugur di situ, ingat, yang mengangkat mayatmu, yang pertama kali membalut lukamu, adalah anggotamu,” imbuh Djamari. (Man/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *