Kabarindo24jam.com | Kota Tua, Jakarta, 3 Maret 2026 — Fenomena gerhana bulan total yang kerap disebut sebagai “bulan merah” dijadwalkan terjadi pada 3 Maret 2026, dimulai Pukul 18.03 WIB.
Peristiwa astronomi ini menjadi perhatian karena dapat diamati secara langsung tanpa alat bantu khusus, selama kondisi langit cerah dan bebas awan.
Gerhana bulan total terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi menutupi seluruh permukaan Bulan.
Warna merah muncul akibat pembiasan dan penyebaran cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Fenomena ini dikenal secara ilmiah sebagai efek hamburan Rayleigh, di mana cahaya berwarna biru tersebar, sementara cahaya merah tetap diteruskan dan menerangi permukaan Bulan yang sedang berada dalam bayangan total.
Gerhana bulan total tidak terjadi setiap bulan karena kemiringan orbit Bulan terhadap Bumi sekitar 5 derajat. Dalam satu tahun, bisa terjadi antara dua hingga lima gerhana bulan (baik sebagian maupun total). Namun, gerhana bulan total biasanya terjadi rata-rata sekitar setiap 2 hingga 3 tahun di suatu lokasi tertentu di Bumi.
Durasi fase total gerhana bulan dapat berlangsung sekitar 1 hingga 1,5 jam, sementara keseluruhan proses—dari awal gerhana penumbra hingga berakhir total—dapat memakan waktu sekitar 4 hingga 6 jam. Waktu tepatnya bergantung pada posisi pengamat di permukaan Bumi.
Berbeda dengan gerhana Matahari, gerhana bulan aman disaksikan dengan mata telanjang tanpa risiko bagi penglihatan. Pengamatan juga dapat dilakukan menggunakan teropong atau teleskop untuk melihat detail permukaan Bulan selama fase total.
Dampak bagi Alam dan Manusia
Secara ilmiah, gerhana bulan tidak memiliki dampak langsung yang signifikan terhadap kehidupan manusia maupun sistem alam. Fenomena ini tidak memengaruhi gravitasi secara drastis, tidak menyebabkan bencana, dan tidak berdampak pada kesehatan.
Beberapa penelitian mencatat bahwa perubahan cahaya sementara saat gerhana dapat memengaruhi perilaku hewan nokturnal (aktif di malam hari), namun sifatnya sementara dan kembali normal setelah gerhana berakhir.
Dalam berbagai budaya, gerhana bulan merah memiliki makna simbolik. Di sejumlah tradisi kuno, warna merah dianggap sebagai pertanda perubahan atau peringatan. Di wilayah Asia dan Timur Tengah, gerhana bulan pernah dikaitkan dengan legenda makhluk yang “memakan” Bulan.
Sementara dalam beberapa interpretasi modern, istilah “blood moon” sering muncul dalam narasi simbolis atau religius.
Namun secara astronomi, gerhana bulan adalah fenomena alam yang sepenuhnya dapat dijelaskan melalui pergerakan benda langit dan interaksi cahaya dengan atmosfer.
Gerhana bulan merah pada 3 Maret 2026 menjadi momen edukatif sekaligus visual yang menarik untuk disaksikan masyarakat. Dengan kondisi cuaca yang mendukung, fenomena ini dapat diamati langsung tanpa alat khusus. Otoritas astronomi menganjurkan masyarakat untuk memilih lokasi terbuka dengan minim polusi cahaya guna mendapatkan pengalaman pengamatan yang optimal.
Fenomena ini menjadi pengingat akan keteraturan gerak benda langit di tata surya dan peluang untuk meningkatkan literasi astronomi di tengah masyarakat.
(Ls/*)





