Gejolak Rupiah Picu Ketegangan di Senayan, Komisi XI Soroti Kredibilitas Bank Indonesia

Kabarindo24jam.com | JAKARTA — Rapat kerja antara Komisi XI DPR RI dan Bank Indonesia pada Senin (18/5/2026) berlangsung panas setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menembus level Rp17.600 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut memicu kritik tajam dari sejumlah anggota dewan terhadap kebijakan dan langkah stabilisasi yang dilakukan bank sentral.

Sorotan paling keras datang dari Primus Yustisio. Politikus PAN itu menilai pelemahan rupiah yang terus terjadi telah menggerus kepercayaan publik terhadap Bank Indonesia serta mempertanyakan kredibilitas otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Bacaan Lainnya

Dalam rapat di Gedung DPR RI, Jakarta, Primus secara terbuka meminta Gubernur BI Perry Warjiyo mempertimbangkan untuk mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kondisi tersebut. Ia menyebut langkah tersebut bukan bentuk penghinaan, melainkan sikap “gentleman” demi menjaga kehormatan institusi.

Primus juga menyoroti apa yang ia sebut sebagai anomali ekonomi nasional. Menurutnya, di tengah klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di kisaran 5,61 persen pada kuartal I 2026, nilai tukar rupiah justru mengalami tekanan berat terhadap dolar AS maupun sejumlah mata uang global lainnya.

Selain terhadap dolar AS, ia menilai rupiah juga melemah terhadap dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, euro, hingga dolar Hong Kong. Kondisi tersebut dinilai memperburuk persepsi pasar terhadap ketahanan ekonomi domestik dan kemampuan otoritas moneter menjaga stabilitas keuangan nasional.

Kritik serupa turut disampaikan sejumlah anggota Komisi XI lainnya. Dalam rapat tersebut, beberapa legislator mempertanyakan efektivitas instrumen kebijakan Bank Indonesia karena pelemahan rupiah dinilai belum berhasil dikendalikan meskipun berbagai langkah intervensi telah dilakukan.

Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDIP, Harris Turino, misalnya, menyoroti pernyataan BI yang menyebut rupiah masih relatif stabil. Ia menilai kondisi di lapangan justru menunjukkan kenaikan harga impor, meningkatnya biaya industri, serta tekanan terhadap pangan dan energi.

Sementara itu, anggota DPR lainnya juga mengingatkan dampak pelemahan rupiah terhadap kelas menengah dan pelaku UMKM di daerah. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat menekan daya beli masyarakat apabila depresiasi rupiah berlangsung berkepanjangan.

Hingga rapat berlangsung, pihak Bank Indonesia belum memberikan tanggapan resmi terkait desakan pengunduran diri terhadap Gubernur BI. Namun, BI sebelumnya menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi dinamika global, termasuk ketidakpastian geopolitik dan penguatan dolar AS di pasar internasional

(Ls/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *