Alun – Alun Kabupaten Bogor, Ikon Baru Ruang Publik, Kado Hari Jadi Bogor ke 544

Kabarindo24jam.com | Cibinong – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dibawah kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto fokus melakukan pembangunan secara merata di seluruh Bumi Tegar Beriman. Penataan dilakukan di wilayah kecamatan-kecamatan hingga pedesaan.

Pembangunan ruang terbuka hijau atau hutan kota digencarkan di seluruh daerah, ini merupakan langkah strategis untuk menciptakan ruang terbuka hijau yang inklusif, menggerakkan ekonomi lokal, dan menjadi pusat interaksi warga.

Bacaan Lainnya

Salah satunya dengan melakukan pembangunan alun-alun Kabupaten yang lokasinya tepat di muka komplek perkantoran Pemkab Bogor, Jalan Raya Pemda Tegar Beriman – Cibinong. Pembangunan alun-alun yang akan jadi ikon ruang publik baru ini, masih terus berjalan dibangun dan ditargetkan selesai pada Juni 2026 sekaligus kado Hari Jadi Bogor (HJB) ke 544.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika menjelaskan bahwa pembangunan Alun-Alun Tegar Beriman merupakan bagian dari upaya mengubah area private pemerintahan menjadi ruang publik yang inklusif.

“Selama puluhan tahun, Kabupaten Bogor belum memiliki alun-alun kota. Karena itu, proyek ini menjadi bagian dari proyek strategis daerah yang diharapkan membawa perubahan wajah Ibukota Kabupaten, yaitu Kota Cibinong,” kata Ajat dalam keterangannya yang dikutip, Kamis (21/5/2026).

Ia menambahkan, Pemkab Bogor juga melakukan penataan kawasan pendukung, seperti perbaikan Masjid Baitul Faidzin dengan penambahan eskalator, penataan Taman Siliwangi, serta pembenahan Cibinong Situ Plaza. “Mimpinya ya menjadi kado HJB, pengennya begitu ya,” imbuh Ajat.

Proyek alun-alun ini juga menyedot perhatian Bupati Bogor Rudy Susmanto yang terus-menerus memonitor langsung dan bahkan meninjau progres pembangunan Alun-Alun Kabupaten Bogor untuk memastikan pelaksanaan pembangunannya berjalan lancar dan sesuai target yang ditetapkan.

Dalam peninjauan tersebut, Bupati Rudy juga melihat perkembangan penataan kawasan strategis lainnya, termasuk penataan Masjid Baitul Faizin dan sekitarnya. “Taman Siliwangi tersisa satu pagar yang menghubungkan dengan jalan bersih. Kita ingin pagarnya sudah mulai dibongkar antara masjid Baitul Faidzin dan Taman Siliwangi,” kata Rudy setelah meninjau lokasi alun-alun.

“Jangan ada Batasan (pagar), sehingga masyarakat kapanpun mau masuk bisa masuk. Disekelilingnya ada pedagang yang harus difasilitasi tempat untuk berjualan didalam Taman Siliwangi. Mereka yang pakai gerobak pinggulan kita sediakan supaya lebih refresentatif dan PKL nya naik kelas,” tambah Rudy.

Ia pun mengemukakan bahwa Pemkab Bogor akan terus mendorong pembangunan yang lebih tertata, nyaman, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Dengan segala kemampuan yang dimiliki Pemerintah Daerah saat ini, kami akan terus meningkatkan pembangunan yang lebih tertata, nyaman, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.

Diketahui, pembangunan Alun-Alun Tegar Beriman menelan anggaran Rp11,1 miliar yang bersumber dari APBD. Berdasarkan data LPSE, proyek penataan lapangan, taman kantor bupati, dan taman Masjid Baitul Faidzin memiliki pagu anggaran Rp11.161.988.000 dengan HPS Rp11.148.597.012,89 yang dimenangkan oleh CV Melu Jaya Lestari dengan nilai kontrak sebesar Rp10.785.490.000.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek Alun-Alun Tegar Beriman, Eka Novari, mengungkapkan bahwa apa yang ditargetkan Pemkab Bogor harus tercapai. ”Target kami tetap selesai sebelum HJB agar dapat segera dinikmati oleh masyarakat,” kata Eka yang juga menjabat Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah.

Eka menambahkan bahwa area alun-alun tersebut akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum. ”Ini akan menjadi ruang terbuka hijau bagi masyarakat. Posisi gerbang pintu menuju perkantoran Bupati Bogor juga digeser mundur dari lokasi sebelumnya. Selain itu, tersedia amfiteater yang dapat digunakan masyarakat untuk pertunjukan seni terbuka,” jelasnya.

Adapun target penyelesaian proyek tersebut, lanjut Eka, sejalan dengan masa kontrak yang telah ditetapkan. Meski demikian, ia mengakui adanya beberapa kendala teknis di lapangan. ”Kendala utama adalah faktor cuaca yang sulit diprediksi. Selain itu, ada aktivitas Car Free Day (CFD) setiap hari Minggu yang membatasi ruang gerak alat berat,” pungkasnya. (Cok)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *