Ribuan Bangkai Ayam Dilempar ke Kantor PLN Palangka Raya, Peternak Tuntut Kepastian Kompensasi

Kabarindo24jam.com | PALANGKA RAYA – Aksi unjuk rasa yang melibatkan peternak ayam dan Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) Jilid VII berlangsung di Kantor PT PLN (Persero) UP3 Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (30/10/2026). Dalam aksi tersebut, massa membawa dan melemparkan ribuan bangkai ayam ke halaman kantor PLN sebagai bentuk protes terhadap pemadaman listrik bergilir yang disebut berdampak pada usaha peternakan.

PALANGKA RAYA – Aksi unjuk rasa yang melibatkan peternak ayam dan Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) Jilid VII berlangsung di Kantor PT PLN (Persero) UP3 Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (30/10/2026). Dalam aksi tersebut, massa membawa dan melemparkan ribuan bangkai ayam ke halaman kantor PLN sebagai bentuk protes terhadap pemadaman listrik bergilir yang disebut berdampak pada usaha peternakan.

Bacaan Lainnya

Aksi itu kembali menyoroti persoalan pasokan listrik di Palangka Raya dan dampaknya terhadap peternak yang menggunakan sistem kandang tertutup atau closed house. Sistem tersebut mengandalkan peralatan listrik, terutama kipas ventilasi (blower), untuk menjaga sirkulasi udara dan suhu di dalam kandang.

Peternak menyebut pemadaman listrik yang terjadi berulang kali menyebabkan sistem ventilasi tidak berfungsi. Kondisi tersebut diduga memicu peningkatan suhu dan gangguan sirkulasi udara yang berujung pada kematian ayam dalam jumlah besar.

Salah seorang peternak bernama Satrio menyampaikan bahwa sekitar 7.000 ekor ayam miliknya mati. Ia memperkirakan kerugian yang dialami mencapai Rp200 juta.
Menurut keterangan yang disampaikan dalam pemberitaan mengenai aksi tersebut, genset cadangan yang seharusnya digunakan ketika listrik padam juga mengalami kerusakan. Kondisi itu disebut memperburuk dampak pemadaman terhadap operasional kandang.

Aksi tersebut juga diwarnai tuntutan agar PLN menghentikan pemadaman bergilir, memberikan transparansi mengenai penyebab gangguan pasokan listrik, serta memastikan adanya kompensasi bagi pelanggan yang mengalami kerugian.

Juru Bicara Aliansi Gerakan Palangka Raya Gelap Jilid VII, Fiteli Waruwu, menyebut aksi tersebut merupakan rangkaian protes ketujuh. Menurutnya, sekitar 4.000 bangkai ayam yang dibawa ke kantor PLN hanya sebagian dari total ayam yang dilaporkan mati.

Massa juga mendesak evaluasi terhadap jajaran manajemen PLN di Kalimantan Tengah, termasuk meminta pencopotan General Manager PLN UIW Kalselteng dan jajaran manajemen terkait. Protes peternak dengan membawa bangkai ayam ke Kantor PLN UP3 Palangka Raya bukan pertama kali terjadi.

Pada Rabu, 29 Juli 2026, massa Gerakan Palangka Raya Gelap juga membawa sekitar 1.500 bangkai ayam menggunakan mobil pikap dan membuang sebagian di halaman kantor PLN.

Aksi tersebut dilakukan sebagai protes terhadap pemadaman listrik yang dinilai merugikan masyarakat dan pelaku usaha peternakan.
Dalam aksi sebelumnya, massa juga meminta PLN memberikan kepastian pasokan listrik dan kompensasi atas kerugian yang dialami pelanggan.

Menurut Satrio dalam keterangannya menyebut dirinya pernah mengalami kematian sekitar 5.000 ekor ayam akibat persoalan serupa sebelum kejadian yang dilaporkan pada Oktober ini.

Belum ditemukan penjelasan resmi PLN yang secara khusus menjawab tuntutan massa dalam aksi Jilid VII, termasuk mengenai penyebab teknis pemadaman yang berdampak pada peternakan Satrio dan kepastian pemberian kompensasi.

(Los/*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *